Jumat, 17 Mei 2013

wahaby sang pencetus huru-hara

 
Kemarin

sejak dahulu rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sudah memperingatkan wahaby manhaj salaf agar di waspadai-di jauhi serta tidak dianut system keagamaannya


عن ابي سعيد الخدري قال
: بينما رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبة وسلم يقسم قسما قال بن عباس , كانت غنائم هوازن يوم حنين.إذ جاءه رجل من تميم مقلص الثياب (ثيابه قصيرة) ذو شيماء,بين عينيه أثر السجود
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata tel...ah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang hawazin , tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah yang berbaju pendek ‘yang terlihat sebuah tanda di antara kedua matanya mereka dari bekas sujud’ dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim
,
فقال
:أعدل يا رسول الله ,فقال عليه الصلاة والسلام : ويلك ومن يعدل إذ لم أعدل؟! قد خبثت وخسرت إن لم أكن أعدل .
maka
orang ini berkata kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berbuat adillah!”
Maka Nabi berkata : “Celaka engkau, siapa lagi yang
dapat berbuat adil kalau aku tidak adil?!”
ثم قال : يوشك أن يأتي قوم مثل هذا يحسنون القيل ويسيئون الفعل ,هم شرار الخلق والخليقة يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء
“bakal datang segolongan kaum yang menyerupai orang tadi yang Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat,mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk dan ciptaan yang gemar mengaku mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.”
,يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم,
mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka,
يحسبونه لهم وهو عليهم
mereka mengira bacaan Al-Qur’an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya.
ليس قراءتكم إلى قراءتهم بشيء
yang bacaan al-qur'an kamu ( apabila ) dibandingkan dengan bacaan
mereka maka sedikitpun tidak akan membandingi/ tidak ada apa-apanya,
و لا صلاتكم إلى صلاتهم بشيء
demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya.
و لا صيامكم إلى صيامهم بشيء
emikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya
يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية
mereka keluar dari agama islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya.
محلقين رؤوسهم وشواربهم وآزارهم إلى أنصاف سيقانهم).
yang bercukur rambut dan kumisnya dan memakai
sarung yang panjangnya pada setengah betis
ثم ذكر النبي صلى الله عليه وآله وصحبة وسلم علامتهم المميزة فقال :
kemudian nabi muhammad sallallahu alaihi wasallam menuturkan ciri-ciri mereka
... (يقتلون أهل الإسلام ويَدَعون أهل الأوثان)
Mereka membunuhi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala”

ثم طالبنا رسول الله
إذا لقيناهم أن نقاتلهم
kemudian aku meminta izin rasulullah yang apabila aku bertemu dengan mereka aku bisa membunuhnya
فقال فمن لقيهم فليقاتلهم
maka rasulullah bersabda : barangsiapa bertemu dengan orang semacam tadi maka ia hendaklah membunuhnya
فمن قتلهم فله أفضل الأجر ومن قتلوه فله الشهادة)
dan barangsiapa berhasil membunuh orang semacam tadi maka ia akan mendapatkan paling utamanya pahala dan barangsiapa terbunuh oleh mereka maka ia mendapatkan jaminan pahala syahid

dikutipkan secara ringkas dari
*رواه البخاري في كتاب بدء الخلق باب علامة النبوة
kitab bad'ul kholqi bab alamah annubuwwah yang diriwaayatkan imam al-bhukari dalam kitab sahihnya
*النسائي في خصائصه ص43,44
dalam kitab khoshois dari imam annasa'i halaman 43-44
*مسلم في صحيحة في كتاب الزكاة باب التحذير من زينة الدنيا
dalam sohih muslim pada kitab zakat dari bab tahdzir min zinatiddunnya
*الإمام احمد في مسنده في الجزء الأول ص 78,88,91
dalam musnad imam ahmad juz 1 halaman 78/88/91
*بن ماجه في صحيحة باب ذكر الخوارج
dalam sunan ibnu majjah padda bab dzikrul khowarij
*الحاكم في المستدرك الجزء الثاني ص 145 وقال حديث حسن على شرط مسلم
dalam al-mustadrokk juz 2 halaman 145
*الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد الجزء الأول ص 159
dalam tarikh baghdad juz 1 halaman 159
*أبو نعيم في الحلية جـ4 ص 186 وكنز العمال جـ1 صـ
dalam al-hulliyyah juz 4 halaman 186 dan pada kitab kanzul ummal juz 1
Lihat Selengkapnya

Minggu, 12 Mei 2013

hukum bersalaman setelah solat lima waktu adalah sunnah

oleh As Toni (Catatan) pada 10 Mei 2013 pukul 2:26
                                                          بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  



بشر الكريم الجزء الاول صـ 191 دار الفكر
dalam kitab busyrol kariem juz 1 halaman 191 cetakan darul fikr
(تنبيه) المصافحة بعد الصلاة قال الشيخ عز الدين بدعة مباحة
peringatan :: bersalaman setelah solat hukumnya adalah
telah berfatwa syehk izzuddin bahwasanya hal tersebut adalah
 termasuk bidah yang diperbolehkan
 قال النووي ان صافح من كان معه قبل الصلاة فمباحة
imam annawawi telah memfatwakan bahwa ssungguhnya  bersalaman pada orang yang telah bersamanya sejak sebelum solat hukumnyaa adalah mubah
 أو لم يكن معه قبلها قسنة اذ المصافحة عند اللقاء سنة اجماعا انتهى
sedangkkan bersalaman pada orang yang sebelumnya tidak bersamanya maka hukumnya adalah sunnah , karena hukum bersalaman ketika berjumpa adalah sunnah secara ijma' nya para ulama

ولو مد شخص يده ليصاحفك فصاحفه
dan apabila seseorang mengulurkan tangannya untuk
 berjabat tangan ( bersalaman) .red


 ان كثيرا قالوا بسنية ذلك مطلقا
bahwa sesungguhnya kebanyakan para ulama' telah memfatwakan kesunahan hal tersebut secara mutlak

. بغية المسترشدين صــ 103
dalam kitab bhugyatul musytarsyidin halaman 103
  وذكر ابن عبد السلام أنها من البدع المباحة واستحسنه النووي
syehk izzuddin ibni abdussalam memfatwakan bahwa sesungguhnya bersalaman setelah solat hukumnya adalah bid'ah yang mubah
sedangkan menurut imam annawawi hukumnya adalah sebuah bid'ah yang bagus
 وينبغي التفصيل بين من كان معه قبل الصلاة فمباحة
sedangkan pentafshilannya adalah :: barangsiapa bersalaman pada seseorang yang telah bersamanya sejak sebelum solat didirikan maka bersalaman padanya hukumnya adalah mubah
ومن لم يكن معه فمستحبة إذ هي سنة عند اللقاء إجماعاً.
sedangkan bersalaman apada orang yang tidak bersamanya sejak sebelum solat maka hukumnya adalah sunnah karena bersalaman ketika waktu perjumpaan hukumnya adalah sunnah secara ijma'nya para ulama
 وقال بعضهم : إن المصلي كالغائب فعليه تستحب عقيب الخمس مطلقاً اه
sedangkan sebagian para ulama memfatwakan : bahwa sesungguhnya orang yang sedang solat itu hukumnya adalah ghoib ( tidak menemui/menghadap manusia) maka setelah melakukan solaat lima waktu disunahkan bersalaman pada yang lain.

wahaby jangan dusta tentang halalnya hukum allah

(الأشباه والنظائر للسيوطي)
dalam kitab al-asbah wa annadzair
وهي "الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم عندنا
bahwa segala sesuatu pada asalnya hukumnya adalah boleh sampai adanya dalil
yang melarangnya, prinsip inilah yang di jadikan
hujjah bagi kita madzhab assyafi'iyyah
______________________________________________________________________
sabda rasulullah SAW

قوله صلى الله عليه وسلم: "ما أحل الله فهو حلال وما حرم فهو حرام وما سكت عنه فهو عفو, فاقبلوا من الله عافيته فإن الله لم يكن لينسى شيئا", أخرجه البزار والطبراني من حديث أبي الدرداء بسند حسن.

Apa yang dihalalkan Allah, maka itu adalah halal dan apa yang iharamkan-Nya, maka adalah haram dan yang apa didiamkan-Nya merupakan kemaafan, maka temuilah Allah dengan kemaafannya. Sesungguhnya Allah tidak akan lupa sesuatupun.(H.R. al-Bazar dan Thabrany) dari riwayatnya abi darda' dengan sanad yang hasan

وروى الطبراني أيضا من حديث أبي ثعلبة: "إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها, ونهى عن أشياء فلا تنتهكوها, وحد حدودا فلا تعتدوها, وسكت عن أشياء من غير نسيان, فلا تبحثوا عنها"
Bersabda rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam: ”Sesungguhnya Alloh subhaanahu wata’ala telah menetapkan kewajiban-kewajiban maka jangan kalian remehkan, dan memberi batasan-batasan maka jangan kalian langgar, dan mengharomkan sesuatu maka jangan kalian tentang, dan mendiamkan sesuatu sebagai rohmat untuk kalian bukan karena lupa , maka jangan kalian cari-cari/ mempersulitnya (membahasnya dalam-dalam)”. HR attabaroni dari riwayatnya abi sta'labah]

وفي لفظ: "وسكت عن كثير من غير نسيان فلا تتكلفوها رحمة لكم فاقبلوها".
dan di dalam riwayat yang lain : dan allah mendiamkan dari sejumlah masalah ( banyak masalah ) bukan karena lupa maka dari itu jangan kalian persulit diri kalian dengan melarang-larang nya) sebagai bentuk rahmatnya maka dari itu terimalah hal
tersebut

وروى الترمذي وابن ماجه من حديث سلمان: أنه صلى الله عليه وسلم سئل عن الجبن والسمن والفراء فقال: "الحلال ما أحل الله في كتابه, والحرام ما حرم الله في كتابه, وما سكت عنه فهو مما عفا عنه"
Dari Salman al-Farisi: Rasulullah s.a.w. ditanya mengenai minyak, keju dan keledai hutan, lalu baginda s.a.w. bersabda: “Halal ialah apa yang telah dihalalkan oleh Allah, dan haram ialah apa yang telah diharamkan oleh Allah di dalam kitabNya, Dan apa yang didiamkan olehNya, maka ia adalah dariapa perkara yang dimaafkan untuk kamu.” (HR al-Tarmizi, Ibnu Majah

Allah berfirman :

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan jangan kamu berani mengatakan terhadap apa yang dikatakan oleh lidah-lidah kamu dengan dusta; bahawa ini halal dan ini haram, supaya kamu berbuat dusta atas (nama) Allah, sesungguhnya orang-orang yang berani berbuat dusta atas (nama) Allah tidak akan dapat bahagia.” (an-Nahl: 116

 

4 hal yang nyaris dilalaikan


apakah kalian selalu mengingat-ingat tentang 4 janji allah ini pada kalian ?
1.
لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu
(QS Ibrahim :7)

2.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.-Al-Baqarah ayat 152

3.
ادْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ (Ghafir:60)
“berdoalah kepadaKu,maka nescaya akan Ku perkenankan bagimu”

4.
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan tidak pula Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun .Surah Al Anfaal 33



 يروى أن الجنيد: دخل على السري السقطي، فقال له السري : ما الشكر ياغلام؟ فقال ألا نستعين بنعم الله على معاصيه.
diriwayatkan bahwa sesungguhnya al juneid masuk menemui syehk sarri al-siqthi
maka berkatalah assarri assiqthi kepada al juneid
bersyukur itu apakah wahai pemuda ? maka aljuneid menjawab : bersyukur adalah kita tidak menggunakan nikmat2 allah untuk bermaksiat






  •  قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ
  • abu darda' berkata
    : " مَنْ لَمْ يُعْرَفْ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِلا فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ عِلْمُهُ ، وَحَضَرَ عَذَابُهُ "
    barangsiapa tidak mengetahui nikmat-nikmat allah atasnya kecuali hanya mengetahui nikmat makan dan nikmat minum maka orang semacam itu benar-benar ber ilmu sedikit dan azab (untuknya) benar2 akan mendatanginya
وقال عمر بن الخطاب: قيدوا النعم بالشكر، و العلم بالكتاب.
berkatalah umar bin khattab : ikatlah nikmat2 allah (biar langgeng) dengan bersyukur dan ikatlah ilmu ( biar awet ) dengan (kalian) tulis



سَمِعْتُ مَخْلَدَ بْنَ حُسَيْنٍ ، يَقُولُ : كَانَ يُقَالُ : " الشُّكْرُ تَرْكُ الْمَعَاصِي
aku telah mendengar mahlad bin husein berkata : bahwasanya telah dikatakan : bersukur kepada allah adalah dengan cara meninggalkan seluruh maksiat


bid'ah adalah sebuah pembaharuan yang di puji dan ada pula yang dicela juz 3

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
BID'AH yang dipuji dan di cela allah ta'ala pada ummatnya nabi isa alaihi assalam

Firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Hadid : 27
وجعلنا في قلوب الذين اتبعوه رأفة ورحمة ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله (الحديد: 27)
“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah SWT”. (QS. Al-Hadid: 27)

اللهُ امتَدَحَ الْمُسْلِمِينَ الَّذينَ كانُوا على شَريعَةِ عيسى عليه السلام
لأنَّهُمْ كانُوا أَهْلَ رَحْمَةٍ ورأفَةٍ
allah ta'ala memuji ummat islam yang menjadi ummatnya nabi isa alaihi assalam karena mereka itu berjiwa santun dan kasih sayang
ولأنَّهُمْ ابْتَدَعُوا الرَّهْبانيةَ
dan ummatnya nabi isa itu mendapatkan pujian dari allah sebab mengadakan pembaharuan/bid'ah dalam syare'atnya nabi isa yaitu sebuah ritual rahbaniyyah
وَهِيَ الانْقِطاعُ عنِ الشَّهواتِ الْمُباحَةِ زيادَةً على تَجَنُّبِ الْمُحرَّماتِ، حَتَّى إنَّهُمْ انَقطَعُوا عنِ الزِّواجِ وتَرَكُوا الَّلذائِذَ مِنَ الْمَطْعُومَاتِ والثِّيابِ الفاخِرَةِ وأقْبَلُوا على الآخِرَةِ اقْبالاً تامًّا
adapun ritual rohbaniyyah adalah sebuah usaha mengalahkan hawa nafsu dan sangat ekstra dalam menjauhi keharaman sampai- sampai mereka tidak menikah dan tidak menikmati kelezatan makanan dan meninggalkan kemewahan busana hanya demi kesempurnaan dalam menyongsong kehidupan akherat kelak.

فاللهُ امْتَدَحَهُمْ عَلَى هَذِهِ الرَّهْبانِيَّةِ مَعَ أنَّ عيسى عليه السلام لَمْ يَنُصَّ لَهُم عَلَيْهَا.
maka dari itulah allah memuji ummatnya nabi isa yang menjalani ritual rahbaniyyah padahal nabi isa alaihi assalam tidak pernah memerintahkan ummatnya untuk menjalankan ritual rahbaniyyah.

namun allah juga mengancam pada rahbaniyyah ummatnya nabi isa yang teledor dalam firmannya
فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا
lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.
بَلْ ذَمٌ لِمَنْ جاءَ بَعْدَهُم مِمَّنْ قَلَّدَهُم في الانْقِطاعِ عَنِ الشَّهواتِ مَعَ الشِّرْكِ أي مَعَ عِبادَةِ عيسى عليه السلامُ وأُمِّهِ.
firman nya allah tersebut adalah mencela para rahbaniyyah yang hidup setelah zamannya nabi isa yang mana mereka melakukan ritual rahbaniyyah namun disisi lain mereka juga menyekutukan allah dengan menyembah nabi isa alaihi wasallam dan ibunya. naudzubillahi min dzalik

bid'ah adalah sebuah pembaharuan yang di puji dan ada pula yang dicela juz 2

As Toni (Catatan) pada 13 Mei 2013 pukul 1:09
                                                               بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  


  • firman Allah:
    "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu (QS. 5:3)
    أنَّ مَعْناها أنَّ قواعِدَ الدِّينِ تَمَّت،
    sesungguhnya makna ayat ini adalah qaidah islam telah sempurna
    قالَ القُرطُبِيُّ في تَفْسيرِهِ: "وَقالَ الْجُمْهُورُ: الْمُرادُ مُعْظَمُ الفَرَائِضِ والتَّحليلِ والتَّحْريمِ،
    dan imam al-qurtuby menjelaskan tafsir ayat di atas pada tafsir alqurtuby yaitu : para pembesar ulama telah berfatwa bahwasanya maksud dari ayat di atas adalah sebagian besar qaidah hukum fardhu/wajib dan hukum halal-haram telah sempurna
    قالوا: وقَد نَزَلَ بَعْدَ ذَلِكَ قُرءانٌ كثيرٌ، ونَزَلَتْ ءايةُ الرِّبا وَنَزَلَت ءايةُ الكَلالَةِ إلى غَيْرِ ذَلِكَ". ثُمَّ إِنَّ هَذِهِ الآيَةَ لَيْسَتْ هِيَ ءاخِرَ ءايَةٍ نَزَلَت مِنَ القُرءانِ
    dan setelah turunnya ayat ini , ayat-ayat alqur'an masih banyak yang diturunkan pada rasulullah yaitu ayat tentang pembahasan hukum riba dan masalah kalalah dan selainnya , maka dari itulah ayat
    : ﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ﴾ [سورة المائدة، 3]:
    firman Allah:
    "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu (QS. 5:3)
    itu bukanlah ayat yang turun terakhir
    بَلْ ءاخِرُ ءايَةٍ نَزَلَتْ هِيَ قولُهُ تعالى
    sebab ayat al qur'an yang turunnya paling terakhir adalah
    firmannya allah

    وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ
    (البقرة:281)
    “ Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (Al Baqarah : 281)

    ذَكَرَ ذَلِكَ القُرطُبِيُّ في تَفْسيرِهِ عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُما.
    al-qurtuby menjelaskan tentang tafsir ayat di atas berlandaskan riwayat dari ibnu abbas radhiallahu anhuma.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru didalam urusan kami ini (AGAMA ISLAM) yang tidak ada dasarnya maka ia tertolak.
  • 1- قال الشيخ ابن عابدين الحنفي في حاشيته (1/376):
    syehk ibnu abidin pembesar madzhab hanafy telah menjelaskan makna bid'ah pada hadist rasulullah dalam
    kitab hasiyyahnya juz 1 halaman 376
    "فقد تكون البدعة واجبة كنصب الأدلة للرد على أهل الفرق الضالة، وتعلّم النحو المفهم للكتاب والسنة،
    dan bid'ah itu ada yang termasuk wajib untuk dikerjakan muslimin seperti mengukuhkan dalil dalil untuk membentengi dari aliran - aliran sesat , dan mempelajari ilmu nahwu yang bisa menghantarkan memahami al-qur'an dan assunnah
    ومندوبة كإحداث نحو رباط ومدرسة، وكل إحسان لم يكن في الصدر الأول
    dan bid'ah itu ada yang termasuk sunnah untuk dikerjakan seperti membangun pondok pesantren dan madrasah/ sekolahan dan setiap kebajikan yang pada zaman rasulullah belum dicontohkan.
  • telah berfatwa badruddin al-aini fi syarhi sahih al-bhukary juz 11 halaman 126
    "والبدعة في الأصل إحداث أمر لم يكن في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم البدعة على نوعين، إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي بدعة حسنة
    adapun bid'ah adalah sebuah perkara yang tidak pernah ada di zamannya rasulullah sallallahu alaihi wa sallam , adapun bid'ah / pembaharuan itu ada dua kategori , yang pertama adalah bid'ah yang masih tergolong kebaikan dalam koridor syare'at maka inilah yang dimaksudkan dengan bid'ah yang bagus/ hasanah
    وإن كانت مما يندرج تحت مستقبح في الشرع فهي بدعة مستقبحة"انتهى.
    namun apabila bid'ah itu sendiri tergolong keburukan dalam koridor syare'at maka itulah yang dimaksudkan dengan bid'ah yang jelek.


1- قال محمد الزرقاني المالكي في شرحه للموطأ (ج1/238)
syehk muhammad azzarqany pembesarnya madzhab malikiyyah menjelaskan tentang bid'ah dalam kitab syarah muwatta' juz 1 halaman 238
وهي لغة ما أُحدث على غير مثال سبق
adapun pengertian bid'ah secara bahasa adalah membuat pembaharuan yang tidak mencontoh
perbuatan orang yang telah dahulu
وتطلق شرعًا على مقابل السنة وهي ما لم يكن في عهده صلى اللّه عليه وسلم،
sedangkan pengertian bid'ah secara syare'at adalah sebuah pekerjaan pembaharuan yang tidak ada dalam perintah sunnah serta tidak pernah ada di zamannya
nabi muhammad sallallahu alaihi wa sallam
ثم تنقسم إلى الأحكام الخمسة. انتهى
dan bid'ah / pembaharuan itu sendiri terbagi menjadi 5 ketentuan hukum : wajib-sunnah-makruh-mubah-haram.



- قال أبو حامد الغزالي في كتابه إحياء علوم الدين، كتاب ءاداب الأكل ج2
abu hamid al-ghazaly memfatwakan dalam kitab ihya' ulumuddin pada kitab adabul akli juz 2
ما نصه: فليس كل ما أبدع منهيا بل المنهي بدعة تضاد سنة ثابتة وترفع أمرا من الشرع مع بقاء علته
tidaklah semua bid'ah itu dilarang syare'at , bid'ah yang dilarang itu adalah bid'ah/pembaharuan yang bertentangan dengan ketetapan sunnah dan tidak berlandaskan syare'at
yang illat'nya tidak bisa dibenahi.



قال النووى فى شرحه على صحيح مسلم"(6/154-155)
imam annawawi memfatwakan tentang kejelasan makna bid'ah dalam hadist rasulullah pada kitab syarah sahih muslim halaman 154-155 juz 6
قال العلماء: البدعة خمسة أقسام: واجبة، ومندوبة، ومحرَّمة، ومكروهة، ومباحة.
para ulama telah menjelaskan hukum bid'ah menjadi 5 macam yaitu hukum wajib,sunnah,haram,makruh,dan mubah
فمن الواجبة: نظم أدلَّة المتكلّمين للرَّدّ عَلَى الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك.
adapun bid'ah yang wajib adalah menyusun kan dalil dalil ketauhidan ( mutakallimin) untuk membentengi dari pengaruh faham mulhid dan faham bid'ah dan selainnya
ومن المندوبة: تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والرّبط وغير ذلك.
adapun bid'ah/pembaharuan yang sunnah itu seperti menyusun kan ilmu pada sebuah kitab , dan membangun madrasah/sekolahan dan membangun pesantren dan selainnya

والحرام والمكروه ظاهران،
adapun bid'ah yang haram dan makruh itu
sudah jelas contoh-contohnya
وقد أوضحت المسألة بأدلَّتها المبسوطة في (تـهذيب الأسماء واللُّغات)
dan aku ( imam annawawi) telah menjelaskan masalah makna bid'ah tersebut secara rinci berikut dalil-dalilnya secara luas dalam kitab tahdzibul asma' wa lughot.




الحافظ أحمد بن حجر العسقلاني في الفتح (ج4/298):
al-hafidz ahmad ibn hajar al-asqalany berfatwa dalam fathul barri juz 4 halaman 298 dalam menjelaskan makna bid'ah dalam sabda rasulullah
والبدعة أصلها ما أحدث على غير مثال سابق، وتطلق في الشرع في مقا
بل السنة فتكون مذمومة،
adapun bid'ah pada pengertian asal adalah sebuah perbuatan pembaharuan yang tidak ada contoh nya pada orang dahulu , adapun dalam pengertian syare'at islam bid'ah adalah sebuah hal yang berlawanan dengan assunnah
والتحقيق إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة،
adapun kejelasannya secara hakikat bahwasanya bid'ah adalah sebuah perkara pembaharuan yang apabila sesuai dalam koridor kebaikan syare'at islam maka bid'ah akan dihukumi bagus
وإن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة
namun apabila bid'ah/pembaharuan tersebut termasuk dalam koridor keburukan dalam kacamata syare'at maka bid'ah
tersebut hukumnya adalah jelek
وإلا فهي من قسم المباح
namun apabila tidak termasuk kategori dua kaedah tadi maka bid'ah hukumnya adalah mubah
وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة.انتهى
dan bid'ah sendiri secara tafshilnya terbagi
menjadi 5 hukum dalam syare'at islam.


-قال ابن الأثير فى "النهاية فى غريب الحديث"(1/106- 107):
ibnu asir memfatwakan dalam kitab annihayah dalam menjelaskan makna bid'ah dalam hadist rasulullah pada halaman 106-107 juz 1
البدعة بِدْعَتَان: بدعة هُدًى، وبدعة ضلال،
bid'ah itu ada dua kateg
ori yaitu bid'ah yang menuntun pada hidayah dan bid'ah yang menyeret pada kesesatan
فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيّز الذّم والإنكار،
adapun bid'ah/pembaharuan yang menyelisihi perintah allah dan rasulnya maka perkara tersebut
termasuk perkara yang tercela dan mungkar
وما كان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَضَّ عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح،
adapun bid'ah / pembaharuan yang masih berasaskan sunnatullah atau rasulnya maka perkara ini hukumnya adalah terpuji

كل مُحْدَثة بدعةٌ، إنما يريد ما خالف أصول الشريعة ولم يوافق السُّنَّة.اهـ
adapun hadist '' setiap pembaharuan adalah bid'ah yang sesat '' maksudnya itu adalah pembaharuan yang menyelisihi ushulussyare'at dan menyelisihi assunnah.




  • dalam kitab tuhfatul labib
    الدَّليلُ مِنْ أَقوالِ وأفعالِ الْخُلَفاءِ الرَّاشدينَ على البِدْعَةِ الْحَسَنَةِ
    ini adalah dalil-dalil ucapan-perbuatan dari para khulafa'urrasyidin yang mempraktekkan bid'ah yang baik
    : فَقَدْ أَحْدَثَ الخُلَفاءُ الرَّاشدُونَ الْمَرْضِيُّونَ أَشْياءَ لَمْ يَفْعَلْها الرَّسولُ صلى الله عليه وسلم
    sungguh para khulafa'urrasyidin al mardhiyyun telah mencontohkan tentang pembaharuan/ bid'ah hasanah yangmana perbuatan ini tidak prnah dilakukan di zaman hidupnya rasulullah sallallahu alaihi wa sallam
    فَهَذا أبو بَكْرٍ الصِّديقُ يَجْمَعُ القُرءانَ ويُسَمِّيهِ بِالْمُصْحَفِ،
    adapun praktek bid'ah hasanah adalah seperti sahabat abu bakar assiddiq telah menyusun ayat -ayat al qur'an dan beliau menamainya dengan nama mushaf
    وهَذا عُمَرُ بنُ الْخطَّابِ يَجْمَعُ النَّاسَ في صلاةِ التَّراويحِ على إمامٍ واحِدٍ وَيَقولُ عَنْها: "نِعْمَتِ البِدْعَةُ هَذِهِ"،
    sedangkan sahabat umar bin khattab telah mengumpulkan para manusia ( muslimin ) menjadi satu untuk melakukan solat tarawih secara berjama'ah dengan dipimpin seorang imam dan beliau menuturkan bahwa perbuatan ini adalah
    sebaik-baiknya bid'ah / pembaharuan
    وهَذا عُثمانُ بنُ عَفَّانَ يأمُرُ بِالأَذانِ الأوَّلِ لِصَلاةِ الْجُمَعَةِ،
    adapun sahabat ustman memerintahkan muslimin agar menjalankan bid'ah / pembaharuan yang baik yaitu mengumandangkan adzan pertama pada solat jum'at
    وهَذا الإمامُ عليٌّ يُنْقَطُ الْمُصْحَفُ وَيُشَكَّلُ في زمانِهِ على يَدِ يَحْيى بنِ يَعْمَرَ،
    sedangkan al-imam aly memerintahkan yahya bin ya'mar agar mengerjakan bid'ah/ pembaharuan yang baik yaitu dengan memberikan nuqtah / titik dan harakat dalam huruf-hurufnya al-qur'an
    وهَذا عُمَرُ بنُ عَبِدِ العزيزِ يعْمَلُ الْمَحارِيبَ والْمآذِنَ لِلْمَساجِدِ. كُلُّ هَذِهِ لَمْ تَكُنْ في زَمانِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
    adapun umar bin abdul aziz memerintahkan para muslimun agar bergiat berjihad / berperang pada negara-negara yang harby serta beliau juga memerintah muslimun agar mendirikan masjid-masjid yang banyak , yangmana kesemua ini tidak pernah diperintahkan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk dikerjakan pada zaman hidup beliau

فَجَمْعُ الْمُصْحَفِ وَنَقْطُهُ وتَشْكيلُهُ عَمَلُ خَيرٍ مَعَ أنَّهُ صلى الله عليه وسلم ما نَصَّ عليهِ ولا عَمِلَهُ.
dan telah menjadi mafhum bahwasanya membuat sebuah kumpulan mushaf dan memberikan harakat pada huruf-huruf al-qur'an adalah sebuah perbuatan baik yangmana rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan dan tidak pernah mengerjakan hal tersebut.

bid'ah adalah sebuah pembaharuan yang di puji dan ada pula yang dicela

bid'ah adalah sebuah pembaharuan yang di puji dan ada pula yang dicela

oleh As Toni (Catatan) pada 10 Mei 2013 pukul 22:03
                                                    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

وفى المعجم الوجيز (ج1/ص45)
dalam kitab mu'jam al-wajiz juz 1 halaman 45
: "هي ما استحدث فى الدين وغيره تقول بدعه بدعا أي أنشأه على غير مثال سابق"اهـ
bid'ah itu adalah sebuah pembaharuan dalam urusan keagamaan dan selain agama , seperti ucapanmu '' engkau benar-benar telah membuat pembaharuan maksudnya engkau telah membuat sebuah pembaharuan yang tidak dikerjakan orang zaman sebelum dirimu.


  •  وقال النووي في كتاب تـهذيب الأسماء واللغات،
    imam annawawi berfatwa tentang kejelasan '' bid'ah'' dalam kitab tahdzibul asma' wa lughot
    مادة (ب د ع ) ج3/22 ما نصه: "البدعة بكسر الباء في الشرع هي: إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله صلّى الله عليه وءاله وسلم، وهي منقسمة إلى حسنة وقبيحة
    bid'ad dengan di baca kasrah huruf ba' dalam pengertian syare'at adalah sebuah pembaharuan yang belum pernah ada di zamannya rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wa sallam
    adapun bid'ah ( pembaharuan ) itu ternagi menjadi bid'ah yang bagus dan bid'ah yang tercela
    قال: والطريق في ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة.
    adapun tentang tinjauan bid'ah itu adalah dengan menggunakan qaidah syar'iyyah
    فإن دخلت في قواعد الإِيجاب فهي واجبة،
    apabila bid'ah tersebut termasuk dalam kaedah hukum wajib maka hukumnya bid'ah adalah wajib untuk dilakukan
    أو في قواعد التحريم فمحرّمة،
    atau bid'ah tersebut tergolong sebuah perkara yang masuk qaidah tahrim maka hukum melakukan bid'ah tersebut adalah haram
    أو الندب فمندوبة،
    atau bid'ah tersebut tergolong sebuah perkara yang masuk qaidah sunnah maka hukum melakukan bid'ah tersebut adalah sunnah
    أو المكروه فمكروهة،
    atau bid'ah tersebut tergolong sebuah perkara yang masuk qaidah makruh maka hukum melakukan bid'ah tersebut adalah makruh
    ، أو المباح فمباحة"
    atau bid'ah tersebut tergolong sebuah perkara yang masuk qaidah mubah maka hukum melakukan bid'ah tersebut adalah mubah
    انتهى كلام النووي.
    telah selesai penjelasan fatwa dari al-imam nawawi di atas.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru didalam urusan kami ini (AGAMA ISLAM) yang tidak ada dasarnya maka ia tertolak

عن العرباض بن سارية قال: صلى بنا رسول الله ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodhiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat.

  • ibnu daqiq telah menjelaskan tentang hadist bid'ah dalam kitab syarah arba'in annawawiyyah
    "اعلم أن المحدث على قسمين: محدث ليس له أصل في الشريعة فهذا باطل مذموم. ومحدث بحمل النظير على النظير فهذا ليس بمذ
    موم
    ketahuilah bahwasanya pembaharuan itu ada dua , yaitu pembaharuan yang sama sekali tidak ber azazkan syare'at maka pembaharuan semacam ini lah yang di hukumi pembaharuan yang bathil dan tercela , sedangkan pembaharuan yang masih selaras dengan asal syare'at maka pembaharuan semacam ini tidaklah tercela
    لأن لفظ "المحدث" ولفظ "البدعة " لا يذمان لمجرد الاسم بل لمعنى المخالفة للسنة والداعي إلى الضلالة ولا يذم ذلك مطلقاً
    karena lafadz al-muhdasu dan lafad al-bid'atu itu bukanlah lafadz yang tercela tapi yang tercela adalah apabila pada lafadz tersebut pelaksanaannya sampai menyelisihi assunnah dan menyeret pada kesesatan , maka dari itulah pada kedua lafadz dalam sabda nabi ini tidak menunjukkan arti tercela secara mutlak.

شروح الحديث
فتح الباري شرح صحيح البخاري
dalam kitab fathul bari ala syarhi sahih bhukari
قال الشافعي " البدعة بدعتان : محمودة ومذمومة ، فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم " أخرجه أبو نعيم بمعناه من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشافعي ،
imam assyafi'i berfatwa : bid'ah itu ada dua '' yaitu bid'ah yang terpuji dan bid'ah yang tercela
adapun bid'ah yang terpuji ialah bid'ah yang selaras dengan hukum sunnah maka bid'ah semacam inilah yang dinamakan bid'ah yang terpuji, sedangkan bid'ah yang menyelisihi sunnah adalah bid'ah yang tercela'' fatwa imam assyafi'i ini diriwayatkan oleh ibrahim bin junaid dari imam assyafi'i
وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال " المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال ، وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة "
dan diriwayatkan lagi dari fatwanya imam assyafi'i yang ditakhrij oleh al-baaihaqi dalam kitab manaqib bahwasanya imam assyafi'i berfatwa '' pembaharuan dalam keagamaan itu ada dua yaitu pembaharuan yang menyelisihi alkitab atau menyelisihi assunnah atau astar sohabat atau ijma'nya ulama' maka pembaharuan semacam inilah yang dihukumi pembaharuan yang menyesatkan

sedangkan pembaharuan yang tidak menyelisihi hal hal tadi maka pembaharuan semacam ini tidaklah dicela

. وقسم بعض العلماء البدعة إلى الأحكام الخمسة وهو واضح
dan sebagian para ulama menjelaskan tentang bid'ah dengan membaginya menjadi 5 ketentuan hukum adapun pentaqsiman ini adalah sebuah fatwa yang jelas.

فمما حدث تدوين الحديث ثم تفسير القرآن ثم تدوين المسائل الفقهية المولدة عن الرأي المحض ثم تدوين ما يتعلق بأعمال القلوب ،

dan dari pembaharuan dalam keagamaan adalah dengan adanya pembukuan ilmu hadist dan ilmu tafsir al qur'andan ilmu ilmu ijtihad fiqhiyyah dan pembukuan aaailmu ilmu tentang amaliyah qalby / tasawwuf.

  • dan syehk ibnu abdissalam menjelaskan dalam
    }fatwanya pada kitab al-qaawaid
    : البدعة خمسة أقسام
    bid'ah itu ada 5 ketentuan hukum
    " فالواجبة " كالاشتغال بالنحو الذي يفهم به كلام الله ورسوله لأن حفظ الشريعة واجب ، ولا يتأتى إلا بذلك فيكون من مقدمة الواجب
    Adapun bid'ah yang wajib dilakukan adalah belajar menekuni ilmu nahwu yangmana dengan ilmu nahwu inilahseseorang bisa memahami kallamullah daan kalam rasulnya , dikarenakan menjaga syare'at adalah sebuah kewajiban dan menjaaga syare'at tidak mungkin bisa dilakukan kecuali dengan memahami nahwu maka nahwu paada hakikatnya adalah sebuah hal yang pertaama diwajibkkan agar menghindarkan kesalah fahaman
    " والمحرمة " ما رتبه من خالف السنة من القدرية والمرجئة والمشبهة "
    bid'ah yang kedua adalah bid'ah yang diharamkan untuk dikerjakan yaitu sebuah pembaharuan yang menyelisihi assunnah dari pembaharuan keagamaan yang diciptakan kaum qaddariyyah
    dan murji'ah serta musybihah
    والمندوبة " كل إحسان لم يعهد عينه في العهد النبوي كالاجتماع على التراويح وبناء المدارس والربط والكلام في التصوف المحمود وعقد مجالس المناظرة إن أريد بذلك وجه الله
    bid'ah yang ketiga adalah bid'ah yang di sunnahkan yaitu sebuah kebaikan yang mana pada zaman nabi muhammad tidak pernah dilakukkan seperti berkumpul dalam menjalankan solat tarawih,membangun madrasah , dan pesantren dan berbicara yang terpuji sesuai kaedah tasawwuf ddan mengadakan bahstul masail yang di niati mencari ridhanya allah ta'ala
    " والمباحة " كالمصافحة عقب صلاة الصبح والعصر ،
    dan adakalanya bid'ah yang diperbolehkan seperti bersalaman setelah menjalankan solat subuh dan slat ashar.


قال الشيخ شمس الدين محمد بن أبي الفتح البعلي الحنبلي في كتابه "المطلع على أبواب المقنع"
berfatfalah syehk syamsuddin muhammad bin abil fath al-ba'la yang menjadi pembsarnya madzhab hambaliyyah dalam kitab karya nya - al muthli' ala abwabil muqni' halaman 334
(ص334)
من كتاب الطلاق:
pada kitabuttholaq
"والبدعة مما عُمل على غير مثال سابق،
adapun bid'ah adalah sebuah amalan yang tiada mencontoh amalan orang dahulu
 والبدعة بدعتان: بدعة هدى وبدعة ضلالة،
adapun bid'ah itu sendiri ada yang menuntut pada hidayah ada pula yang menuntun pada kesesatan
 والبدعة منقسمة بانقسام أحكام التكليف الخمسة"اهـ.
sedangkan tafshilnya bid'ah itu terbagi menjadi hukum taklif manusia yang ada lima.


1.

imam annawawi
2.

ibnu daqiq
3.
imam assyafi'i
4.
al-baaihaqi
5.
syehk syamsuddin muhammad bin abil fath al-ba'la
6.
syehk ibnu abdissalam